Indonesia akan menjadi tempat investor perusahaan chip dunia

Perusahaan ternama chip semikonduktor berasal dari USA, Marvel Technology, menyatakan komitmen untuk berinvestasi di Indonesia dalam rangka mendorong perkembangan industri teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. dan indonesia pun menyambut baik keinginan tersebut.

"Mereka sudah melirik Indonesia, dan akan berinvestasi di sini," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan seusai acara "Modernisator Speaker Forum Daya Saing Nasional Menuju Indonesia 2025" dalam rangkaian World Economic Forum di Jakarta, Senin (13/6/2011).
Menurutnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal saat ini gencar menarik investor, terutama di sektor teknologi informasi, dalam rangka mendorong pertumbuhan dan peningkatan daya saing ekonomi nasional. Di samping itu, pemilik Marvell Technology merupakan putra bangsa. CEO Marvell Technology saat ini bernama Sehat Sutardja.
"Saya sudah mengimbau pemilik Marvell untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi di sini, apakah UI, ITB, UGM, ITS, dan lainnya, untuk memprakarsai pembangunan riset dan pengembangan di Indonesia," ucap Gita.
Marvell merupakan salah satu perusahaan Amerika Serikat yang tercantum dalam majalah Forbes dengan kekayaan bersih 1 miliar dollar AS atau setara Rp 9,5 triliun. Perusahaan yang sudah go public di Bursa Saham Nasdaq New York Stock Exchange ini didirikan Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja, kakak-beradik asal Indonesia. Marvell didirikan pada tahun 1995, dan dalam tempo sekitar 10 tahun, perusahaan ini menjadi perusahaan industri semikonduktor terkemuka di AS.

Meski demikian, Gita tidak merinci lebih lanjut berapa besar investasi yang akan digelontorkan Marvell di Indonesia. Ia hanya menjelaskan, investasi di sektor teknologi informasi masih sangat rendah. Menurut Gita, dari sekitar 12 triliun dollar AS target investasi pada sektor infrastruktur dalam 20 tahun ke depan, porsi sektor teknologi informasi masih relatif kecil. Untuk itu, tambahnya, perlu peningkatan pembobotan alokasi pembiayaan teknologi informasi ke depan yang saat ini hanya sekitar 0,07 persen dari produk domestik bruto nasional.

"Kita harus berani menargetkan investasi di sektor teknologi informasi untuk bisa minimal 10 persen atau berkisar 1,2 triliun dollar AS dalam 20 tahun ke depan. Dengan demikian, target-target pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dapat dicapai," katanya.

Baca juga artikel Populer Dibawah


0 Comments